Mengenang Tendangan Bebas Juninho Pernambucano Yang Tak Kan Terulang Lagi

Posted on

Dari segi kecepatan, Ronaldo adalah rajanya. Skill? mungkin Ronaldinho adalah yang berada di posisi teratas. Namun tuk urusan meksekusi bola-bola mati, tidak ada yang bisa mengalahkan dari sosok Juninho Pernambucano. Di hadapannya, free kick bisa jadi senjata yang begitu mematikan tuk ‘membunuh’ kiper musuh. Brasil memang tidak pernah kekurangan talenta hebat dari dulu. Juninho ialah salah satunya. Atribut andalannya: Tendangan bebas. Andrea Pirlo aja bisa ‘berguru’ kepadanya.

Juninho Pernambucano

Pria kelahiran 30 Januari 1975, Recife, ini memulai karier profesional bersama dengan Sport saat 1993 lalu pensiun di klub Vasco da Gama tahun 2013. Midfielder serang Brasil priode 1999-2006, ia tersohor sebagai spesialis free kick. Namanya berkibar saat di Lyon, klub berseragam antara 2001-2009. Tidak sedikit yang mengakui bila Juninho merupakan penendang bebas berkelas sepanjang masa. Juninho membuat 100 gol tuk Lyon, dan 44 diantaranya dari free kick. Dia menerbitkan total 75 gol free kick sepanjang karirnya, unggul di atas David Beckham, 65 gol. Disamping itu, tekniknya pun mematikan. Jarak justru bukan masalah runyam baginya.

Tendangan bebas yang ia lepaskan kerap berbentuk knuckle ball. Dengan cara itu, bola hampir tidak memiliki spinning motion didalam lajunya. Knuckle shot yang perfect membuat bola yakni bergoyang, arahnya sukar ditebak, dan begitu sulit bagi kiper manapun tuk menghentikan lajunya. Teknik ini telah coba diadaptasi oleh sejumlah pemain, dari Cristiano Ronaldo sampai Pirlo. Namun, tidak ada yang bisa mengeksekusinya sesempurna Juninho. Penjaga gawang yang selaku korban tendangan bebas Juninho pun banyak, dari mereka di panggung domestik sampai Victor Valdes dan Oliver Kahn di ranah Eropa. Dari pemain-pemain yang cicipi mengadaptasi teknik free kick Juninho, salah satunya ialah Pirlo. Set-piece maestro Italia tersebut pernah menulis didalam autobiografinya: “Ia membuat bola mengerjakan hal-hal luar biasa. Dia tidak pernah meleset. Tidak pernah. Saya menonton statistiknya dan sadar kalau itu tentu bukan kebetulan.”

Pencarian rahasia Juninho telah menjadi sebuah obsesi istimewa bagi saya. Kuncinya rupanya gimana ia mendepak bola, bukan di sisi mana.

Hanya 3 jari kakinya yang mengerjakan kontak pada bola, bukan seluruh bagian kakinya.

Jelang ajang perdana timnas Italia di kompetisi Piala Dunia 2014, yaitu melawan Inggris di Manaus, tim Azzurri terutama mengundang Juninho di base camp mereka di Mangaratiba tuk sharing tips bersama Pirlo. Juninho dan Pirlo berkutat dengan waktu dua jam tuk berlatih bareng. Pirlo segera menerapkannya di laga dan ia nyaris mencetak satu gol berkelas dengan sepakan bebasnya. Joe Hart sudah keliru mengantisipasi knuckle ball Pirlo, namun bola cuma membentur mistar. Beruntunglah Hart, bukan Juninho mengeksekusi tendangan bebas tersebut. Andai Juninho yang ada di ujung bola, barangkali Hart sebaiknya mulai berdoa saat ia mengambil ancang-ancang – meski itu mungkin tidak ada gunanya. Juninho membuat 75 gol free kick sepanjang karirnya, 44 dengan jersey Lyon – klub dimana ia mengemas 100 gol kedalam melebihi 300 penampilan dan menolong mereka meraih 7 gelar juara liga. Juninho keluar dari Lyon bercucuran air mata pada 2009, ketika ia merasa masanya disana telah habis. Juninho telah menjadi legenda Lyon, lalu diizinkan gabung bersama Al-Gharafa di Qatar secara free transfer. Ia kemudian beralih ke New York Red Bulls dan balik ke Vasco menjelang pensiun tahun 2013. Setiap pindah, Juninho minta bola yang bakal dipakai di liga tempat ia bermain. Dirinya melakukan itu supaya bisa lebih ‘mengenalnya’ hendak turun di pertarungan. Era Juninho telah lama lewat. Tapi, rekan jejak kehebatannya takkan pernah tergerus masa. Pecinta sepakbola di seantero dunia bakal selalu mengenangnya sebuah salah satu spesialis bola-bola mati berkelas sepanjang sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *